T
|

Kehidupan pada dasarnya adalah
reaksi kimiawi yang terjadi secara terus menerus menurutnya. Bukankah yang
sekarang terjadi pada setiap sel kita, yang terjadi pada inti sel adalah proses
transkripsi, penyalinan kode dari DNA oleh RNA dibawa ke Ribosom untuk di
translasikan menjadi asam amino. Asam amino inilah yang akan menjadi “batu
bata” pembuatan protein yang nantinya akan digunakan meregulasi seluruh fungsi
sel , bahkan membangun sel itu sendiri. Dan kita manusia, juga segala sesuatu
yang hidup lainnya bukankah disusun oleh sel.
Tadinya saya berpikir bahwa
pemahaman tentang DNA diatas nampaknya seolah membuat semuanya menjadi sangat
deterministik. Anda, saya, kita hanyalah representasi dari apa yang telah di
kode oleh gen kita. Tidak akan berubah dan tidak akan keluar dari sana. Tak ada
kehendak bebas. Sangat fatalistik.
Tapi sebuah kisah menarik dari
eksperimen pada bakteri yang cuma bisa memetabolisme laktosa tanpa bisa
memetabolisme glukosa memberikan perspektif yang lain. Si bakteri kemudian
ditempatkan dalam lingkungan yang hanya ada glukosa disana. Seperti bisa
diduga, mereka pun mati karena ketidakmampuan untuk memetabolisme glukosa.
Namun ajaibnya ada beberapa bakteri yang kemudian bisa mensintesis enzym yang
bisa mencerna glukosa. Dan mereka tetap survive. Menurunkan sifat tersebut pada
generasi berikutnya.
Ternyata, kemampuan bakteri untuk
juga mensintesis enzim pencerna glukosa telah ada dalam susunan DNA nya. Tapi
yang diaktifkan selama ini adalah hanya gen yang mengkode pembentukan enzim
pencerna laktosa dan gen yang mengkode enzim pencerna glukosa dipadamkan. Saya
berpikir jika bakteri saja bisa beradaptasi seperti itu, lalu apa alasan yang
membuat manusia tidak bisa. Apa lagi gen yang hari ini diketahui fungsinya
hanya sekitar 5 % dari keseluruhan gen kita. Sisanya belum diketahui. Artinya
medan untuk mengekplorasi kemampuan manusia masih terbuka lebar.
Kazuo Murakami dalam buku ini juga
ingin memberikan garis tebal bahwa hidup memang pada dasarnya adalah
pilihan-pilihan. Kita tidak pernah tahu sampai dimana batas kemampuan kita. 95
% dari fungsi gen kita belum lagi diketahui. Artinya selalu terbuka peluang
untuk terus melakukan perbaikan.Memilih menghidupkan gen yang positif dan
memadamkan gen yang negatif. Contohnya si Kazuo,penulis buku ini yang latar
belakang sesungguhnya dari pertanian, tapi kemudian terlibat dalam penelitian
tentang Renin. Suatu substansi yang biasanya dipelajari dalam ilmu kedokteran.
Substansi yang begitu fragile. Begitu rumit. Demikian kompleksnya sehingga
banyak yang menghindarinya untuk dijadikan subjek penelitian.
Dan orang yang mengaku awam
kedokteran ini kemudian berhasil mentasbihkan dirinya sebagai ilmuwan
terkemuka di bidang ini karena kerja kerasnya. Kata-katanya yang paling
berkesan bagi saya bahwa ia beruntung tidak tahu apa-apa ketika memulai
penelitian tentang subjek ini. Karena dengan demikian ia punya keleluasaan
untuk mengeksplorasi lebih jauh, menggunakan tidak cuma pengetahuan tapi juga
insting dan imajinasinya. Sesuatu yang sangat sukar dilakukan oleh mereka yang
sudah mengaku pakar, karena pasti akan ada begitu banyak pertimbangan dan
kekhawatiran.
Bagi saya buku ini memberikan
semangat, bahwa tidak ada yang tidak mungkin dalam hidup jika anda
menginginkannya dan persisten merawat mimpi itu dengan usaha. Pertama kali
datang ke Eijkman membuat saya nyaris tidak punya kepercayaan diri. Saya
seperti liliput yang pada satu sisi takjub dan sisi yang lain khawatir setengah
mati. Memang benar saya pernah belajar parasitologi dan entomologi. Tapi bukan
yang seperti ini. Bukan aspek biologi molekulernya.
http://edukasi.kompasiana.com
Buku bisa di download pada link dibawah ini :
0 komentar:
Posting Komentar
Click to see the code!
To insert emoticon you must added at least one space before the code.